Cerita PAMITRA Team Building di Bromo: Leading to Serve, Serving to Win

  • 06 Aug 2026
  • Corporate Communication

Membuka perhelatan PAMITRA LEAD Summit 2026 di kawasan Gunung Bromo, PAMITRA menggelar sesi Team Building yang sarat akan makna transformasi. Mengusung tema besar “Leading to Serve, Serving to Win”, agenda ini dirancang sebagai kawah candradimuka untuk membentuk mentalitas kepemimpinan yang melayani (Servant Leadership) dan meruntuhkan tembok ego sektoral antar-departemen.

Transformasi ini langsung terasa sejak awal kegiatan melalui dinamika pembentukan tim. Seluruh peserta, yang terdiri dari jajaran staf hingga level direksi, dilebur ke dalam enam kelompok baru. Secara otonom, setiap kelompok diberikan kebebasan untuk menentukan ketua tim mereka sendiri. Menariknya, dalam simulasi ini, seluruh jabatan struktural di kantor seketika tidak berlaku di lapangan. Seorang direktur atau manajer bisa saja bertugas sebagai anggota biasa, sementara seorang staf dapat terpilih dan memimpin jalannya strategi tim. Melalui pelepasan atribut jabatan ini, PAMITRA menanamkan pesan fundamental bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari hierarki, melainkan dari kepercayaan tim serta kerelaan untuk dipimpin demi mencapai satu tujuan bersama.

Dinamika kesetaraan ini kemudian diuji lebih lanjut melalui simulasi untuk menaklukkan tantangan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Dalam sesi ini, setiap kelompok diberikan misi untuk menyatukan serpihan puzzle yang merepresentasikan nilai-nilai inti perusahaan. Namun, proses ini tidak berjalan mudah karena panitia sengaja memberikan berbagai distraksi yang mencerminkan kondisi ketidakpastian di dunia kerja nyata. Kelompok dituntut untuk memiliki kelincahan, berpikir kritis, dan tetap teliti terhadap perubahan instruksi yang mendadak, sembari terus menyusun strategi penyelesaian masalah yang paling efektif.

Pemahaman tentang kolaborasi semakin dipertajam lewat permainan simulasi eksekusi proyek konstruksi menggunakan balok Lego. Untuk menyelesaikannya, tim harus membagi peran menjadi tiga elemen krusial yang tidak boleh saling tumpang tindih. Ada yang bertugas sebagai Analisator untuk melihat desain utama dan merumuskan strategi, lalu Communicator yang bertugas menerjemahkan bahasa strategi tersebut menjadi instruksi teknis, hingga barisan Eksekutor yang bertugas merakit bangunan murni berdasarkan instruksi sang Communicator. Simulasi ini melatih fokus peserta pada tugasnya masing-masing dengan mengutamakan kecepatan dan ketepatan rantai pelayanan komunikasi. Terlihat jelas bahwa kunci keberhasilan eksekusi di lapangan bergantung pada pimpinan yang mampu memberikan arahan yang jernih, merepresentasikan wujud nyata Servant Leadership yang berorientasi melayani kebutuhan tim pelaksana.

Setelah melewati berbagai rintangan yang menguras tenaga dan pikiran, acara ini ditutup dengan sebuah kejutan emosional di sesi puncak bertajuk One PAMITRA. Kelompok-kelompok yang sebelumnya merasa telah memenangkan setiap babak permainan, ternyata hanya menerima sebagian kecil kepingan dari sebuah bendera perusahaan berukuran raksasa. Mereka akhirnya menyadari bahwa tidak ada satu pun kelompok yang bisa menang atau menyelesaikan misi tersebut sendirian.

Lebih jauh lagi, kepingan penyempurna bendera tersebut tidak hanya dipegang oleh perwakilan kelompok, melainkan dititipkan secara rahasia pada beberapa individu tertentu. Momen penyatuan bendera PAMITRA ini menjadi simbolisasi nyata runtuhnya ego sektoral. Peserta diingatkan bahwa kesuksesan perusahaan tidak pernah ditentukan oleh satu departemen yang merasa paling hebat, melainkan hasil dari kontribusi, dedikasi, dan integrasi setiap individu di dalamnya.

Melalui serangkaian kegiatan Team Building di alam Bromo ini, para pemimpin PAMITRA diharapkan kembali ke meja kerja dengan membawa perspektif baru: siap melayani demi memenangkan tantangan masa depan, bersama-sama sebagai satu kesatuan.